INTEGRASI TERNAK DENGAN KELAPA SAWIT SALAH SATU ALTERNATIF UPAYA MEMPERTAHANKAN POPULASI TERNAK KERBAU DI KABUPATEN LEBAK

Oleh :  Jamaluddin ZA, S.Pt (Kasi Budidaya Dinas Peternakan Kab. Lebak)

Kabupaten Lebak merupakan Kabupaten terluas di Propinsi Banten, sebagian wilayahnya merupakan hamparan perkebunan kelapa sawit yang sangat luas. Sejauh mata memandang terhampar perkebunan kelapa sawit.  Perkebunan kelapa sawit terletak di beberapa kecamatan di Kabupaten Lebak seperti Kecamatan Cileles, Kecamatan Banjarsari, Kecamatan Gunung Kencana dan Kecamatan Maja. 

        Ketika melintas diantara perkebunan kelapa sawit yang indah, seakan melewati taman wisata.  Kadang-kadang terdengar suara krincingan kerbau yang saling sahut menyahut antara yang satu dengan yang lain, seketika terlihatlah segerombolan kerbau yang digembalakan oleh peternak dibawah pohon sawit.  Sungguh pemandangan yang indah ciptaan yang Maha Kuasa.  

      Perkebunan kelapa sawit salah satu andalah untuk mempertahankan populasi kerbau di Kabupaten Lebak, benteng terakhir  untuk menjaga agar populasi kerbau tetap ada dan berkembang di Kabupaten Lebak.  Ternyata jika diamati hubungan antara ternak dengan perkebunan sawit di Kabupaten Lebak belum sepenuhnya terjalin integrasi.  Pakan ternak hanya mengandalkan rumput yang terdapat dibawah pohon kelapa sawit.  Apabila kelapa sawit tumbuh tinggi akan mengakibatkan produksi rumput dibawah pehon sawit menurun atau jika terjadi peremajaan di perkebunan kelapa sawit, ternak tidak bisa digembalakan.

        Berbagai macam rumput tumbuh diantara pohon kelapa sawit yang sering kita sebut sebagai rumput lapang.  Rumput ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  Vegetasi rumput diantara pohon kelapa sawit tergantung pada pertumbuhan kelapa sawit, semakin tinggi pohon dan semakin lebar daun kelapa sawit maka akan semakin menurun produksi rumput yang terdapat dibawahnya.  Hal ini disebabkan berkurangnya sinar matahari yang dibutuhkan oleh rumput untuk fotosintesis.

        Perlu perubahan paradigma bahwa pakan ternak pada perkebunan kelapa sawit bukan hanya rumput yang berada di bawahnya namum terdapat juga pada hasil ikutan panen kelapa sawit dan pengolahan biji sawit,  Setiap kali panen buah kelapa sawit akan menghasilkan pelepah dan daun sawit yang sangat melimpah dan biji sawit yang diolah akan menghasilkan limbah yang bisa dipergunakan sebagai pakan ternak.

        Integrasi ternak dengan kelapa sawit adalah hubungan yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme, ternak dapat memperoleh pakan dari perkebunan kelapa sawit dan ternak dapat menghasilkan pupuk organik untuk pertumbuhan kelapa sawit.

      Tujuan integrasi ternak dengan kelapa sawit adalah selain pemanfaatan pakan dari rumput-rumputan yang berada dibawah pohon sawit juga pemanfaatan pelepah dan daun sawit sebagai pakan ternak sedangkan lokasi yang dekat dengan pabrik pengolahan sawit bisa memanfaatkan lumpur sawit (solid), bungkil inti sawit, serat dan tandan buah kosong (perlu perlakuan khusus).  Kemudian kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada perkebunan kelapa sawit sehingga dapat memperbaiki unsur hara tanah.

       Tentu untuk memanfaatka pelepah dan daun sawit sebagai pakan ternak perlu dilakukan proses secara fisik agar pelepah dan daun sawit menjadi partikel-partikel kecil sehingga ternak mudah mengkonsumsinya serta dapat dimanfaatkan secara optimal.  Alat yang dibutukan untuk pengolahan pelepah dan daun sawit adalah sheereder.  Sheereder menghaluskan hijauan lebih halus dibandingkan dengan chopper, chopper memotong-motong hijauan lebih panjang dan tidak cocok untuk menghaluskan pelepah kelapa sawit.

A. Pola Pemeliharaan Ternak

          Pemeliharaan ternak yang dapat dilakukan yaitu secara ekstensif terbatas dan secara intensif.  Pola ekstensif terbatas yaitu peternak tetap menggembalakan ternaknya diperkebunan kelapa sawit yang sudah berumur lima tahun keatas.  Salah satu sumber pakan yang diberikan memanfaatkan hasil sampingan sawit sebagai pakan ternak. Misalnya pagi sebelum digembalakan atau sore hari setelah digembalakan ternak diberikan pakan dari hasil sampingan sawit. 

          Sedang pola yang lebih baik dilakukan adalah pemeliharaan ternak secara intensif  dengan membuat kandang disekitar perkebunan kelapa sawit. Salah satu pakan utamanya yang diberikan selain rumput yang diperoleh dibawah kelapa sawit juga memanfaarkan hasil sampingan panen dan pengolahan buah kelapa sawit.  Kelebihannya kotoran ternak sebagai pupuk organik dapat dikumpulkan dengan mudah. Selain itu waktu dalam merawat ternak bisa di efisienkan sehingga waktu satu hari selain bisa merawat ternak juga dapat melakukan pekerjaan yang lain.   

B. Produksi Hasil Sampingan Panen dan Olahan Kelapa Sawit

             Berbagai macam hasil sampingan panen dan pengolahan biji sawit diantaranya pelepah sawit, daun sawit, bungkil inti sawit, lumpur sawit, serat perasan dan tandan buah kosong.

a. Pelepah dan Daun Kelapa Sawit

                Ketika panen buah kelapa sawit terdapat hasil ikutan yang dihasilkan diantaranya pelepah dan daun sawit.  Jumlah pelepah dan daun sawit yang dapat diperoleh setiap pohon sekitar 22 pelepah dan daun sawit segar per tahun, jika dikonversi ke bahan kering berarti setiap hektar per tahun dapat diperoleh 2,3 ton.  Pelepah dan daun sawit dapat dipergunakan sebagai pengganti hijauan pakan ternak.  Pemberian pelepah dan daun sawit maksimal 30 % dari konsumsi bahan kering. 

b. Bungkil Inti Sawit (Palm Kemel Cake)

             Bungkil inti sawit diperoleh dari proses pengolahan inti sawit menjadi Palm Kemel Oil.  jika dibandingkan dengan inti sawit beratnya sekitar 49,5 %. 

c. Lumpur Sawit (solid)

           Lumpur sawit merupakan hasil ikutan yang diperoleh dari pencucian dan proses pemisahan CPO, secara umum lumpur sawit dipergunakan sebagai sumber energi.

c. Serat Perasan

               Serat perasan merupkan hasil proses pengepresan buah kelapa sawit segar setelah direbus dan setelah pelepasan buah dari tandan.  Produksi serat perasan sekitar 2,5 ton/Ha bahan kering, Serat perasan mengandung nutrisi yang rendah hanya bisa dimanfaatkan sebagai sumber serat. Jika ingin meningkatkan nilai nutris perlu perlakuan kimiawi.

d. Tandan Buah Kosong (TBK)

           Tandan buah kosong jumlahnya sangat berlimpah sekitar 3,4 ton per hekektar bahan kering per tahun, Tandan buah kosong memiliki serat kasar yang tinggi dan rendah kandungan nutrisi.  Sehingga belum bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.  Perlu perlakuan khusus agar bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

C. Kandungan Nutrisi

           Komposisi nutrisi produk sampingan hasil panen dan limbah pengolahan kelapa sawit bervariasi tergantung bahan produk sampingan hasil panen atau limbah pengolahan kelapa sawit.  Berikut ini adalah komposisi nutrisi produk sampingan dan pengolahan kelapa sawit :

Tabel 1. Komposisi Nutrien Produk Samping Tanaman dan

Pengolahan Buah Kelapa Sawit

Bahan/

Produk samping

 

BK

 

Abu

 

PK

 

SK

 

L

 

BETN

 

Ca

 

P

GE

(kal/g)

%

(% bahan kering)

Daun Pelepah

Solid

Bungkil

Serat

TBK

46,18

26,07

24,08

91,83

93,11

92,10

13,40

5,10

14,40

4,14

5,90

7,89

14,12

3,07

14,58

16,33

6,20

3,70

21,52

50,94

35,88

36,68

48,10

47,93

4,37

1.07

14,78

6,49

3,22

4,70

46,59

39,82

16,36

28,19

0,84

0,96

1,08

0,56

0,17

0,08

0,25

0,84

4461

4841

4082

5178

4684

BK (Bahan kering); PK, protein kasar; L, lemak; BETN, bahan ekstra tanpa nitrogen; Ca, kalsium; P, fosfor dan GE, energi bruto.

            Sumber :  Direktorat Paka Direktorat Jenderal Peternakan Kementan RI (2012)

 

          Tabel diatas menunjukkan bahwa hasil sampingan panen dan limbah pengolahan sawit yaitu daun sawit, pelepah sawit, solid, bungkil sawit, sangat layak dijadikan pakan ternak ruminansia.  Sedangkan serat perasan dan tandan buah kosong masih perlu perlakuan khusus.

            Jumlah pakan yang melimpah ini perlu dimanfaatkan oleh peternak agar memperoleh pakan yang mudah dan murah, sehingga dapat menekan biaya pakan.  Pelepah dan daun sawit yang melimpah agar tetap awet sebaiknya dibuat silase.  Pengawetan hasil sampingan ini dilakukan dengan cara : (1) Meratatakan cacahan pelepah sawit (40 % air) (2) dicampur dengan molasses (3) diaduk rata dengan mesin pengaduk (4) disimpan dalam wadah kedap udara (5) ditumpuk dan di fermentasi selama 3 hari sampai 3 minggu ( Direktorat Pakan, 2012).

           Semoga integrasi ternak dengan kelapa sawit dapat meningkatkan populasi, menekan biaya pakan sehingga meningkatkan pendapatan peternak.  “PETERNAK SEJAHTERA LEBAK JAYA”.

 

 

Daftar Pustaka :

Dirjen Peternakan, Kementerian Pertanian (2012)  Pedoman umum integrasi Tanaman – Ruminansia.  Jakarta

 

 

 

 

 

Terkait

Komentari

Surel Anda tetap rahasia. Kolom yang harus diisi ditandai dengan *
Anda boleh menggunakan label dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Berita
Log In
Pegawai
Harga Produk Hewan
Harga Komoditas